Rabu, 07 November 2012

kata-kata yang berasal dari lingkungan

Diposting oleh Melan Oktavia di 08.18 0 komentar
kata-kata yang berasal dari lingkungan, antara lain:


Durian : dikarnakan kulitnya berduri.
Rambutan : dikarnakan kulitnya seperti rambut.
Jam Tangan : Jam yang dipakai ditangan.
Undur-Undur : Hewan yang jalan nya mundur.
Tokek : karna mengeluarkan suara "Tokek tokek tokek."
Cicak : karna mengeluarkan suara "cak cak cak."
Atapers : orang yang naik di atap kereta api.
Kaki Seribu : hewan yang kakinya seperti ada seribu.
Bunga Bangkai : karna mengeluarkan bau seperti bangkai.
Ikat Rambut : benda yang digunakan untuk mengikat rambut.
Kumis Kucing : tumbuhan yang bentuknya seperti kumis kucing.
Cocor bebek : tumbuhan yang bentuknya seperti mulut bebek.
Kuping Gajah : tumbuhan yang bentuknya seperti kuping gajah.
Surabaya : Provinsi yang diambil dari cerita ikan hiu Sura yang berkelahi dengan buaya.
Banyu Wangi : Provinsi yang diambil dari cerita tentang air yang wangi.
Kebon Jeruk : nama dearah yang konon dulu adalah tempat kebun jeruk.
Keset : alat yang dibuat untuk mengesatkan kaki.
Zebra Cross : tempat menyebrang jalan yang warnanya serupa warna Zebra.
jangkrik : karena bunyinya krikrik
jamur kancing : karena bentuk jamur tersebut seperti kancing.
mie tek-tek : tek karena suara penjualnya yang selalu memukulkan wajan yang bersuara "tek tek".
ngorok : karena suaranya “ngrok ngrok”
Cat kuku: karena  dikukunya diberikan warna seperti dicat.
Ikan Asin : karena ikannya terasa asin.
Kacamata: karena dipakai untuk mata.
Kaos kaki: karena digunakan dikaki dan biasanya berbahan kaos.
Kursi goyang: karena kursinya bergoyang-goyang.
Meja belajar: karena meja yang digunakan untuk belajar
Jam dinding: karena jam diletakkn di dinding
Telur asin: karena telurnya terasa asin.
Papantulis: karena papan yang digunakan berfungsi untuk menulis.
Ikat pinggang: karena digunakan dipinggang.

Perkembangan Bahasa Indonesia

Diposting oleh Melan Oktavia di 08.15 0 komentar
Bahasa adalah suatu sistem bunyi yang jika digabungkan menurut aturan tertentu menimbulkan arti yang dapat ditangkap oleh semua orang yang berbicara dalam bahasa itu- WILLIAM A. HAVILAND

Bahasa pada dasarnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut- PLATO

Bahasa merupakan alat komunikasi yang efektif untuk berkomunikasi dengan seseorang atau orang lain yang menunjukkan suatu pengungkapan perasaan dalam diri kita. Bahasa juga dapat memudahkan kita bergaul dengan orang lain. Bahasa yang digunakan sebaiknya yang sopan santun dan benar. Maksud dari sopan santun adalah kita menyadari dengan siapa kita akan berbicara sehingga bahasa yang digunakan tidak sembarangan, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan menunjukkan kesopanan dalam sikap kita sendiri. Sedangkan, yang dimaksud dengan benar adalah kita menggunakan bahasa yang terdapat dalam EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) atau bisa dikatakan ada baiknya tidak menggunakan bahasa-bahasa hasil penciptaan karena pergaulan. Karena itu merupakan salah satu pembinasaan bahasa Indonesia dalam negeri sendiri.

Saat ini, anak-anak muda yang seharusnya menjadi penerus bangsa tak jarang menggunakan bahasa yang bukan merupakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tak jarang juga dari mereka yang menggunakannya saat berbicara dengan yang lebih tua atau anak-anak kecil yang seharusnya mendapatkan kesempatan untuk belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar dari dini tapi mereka sudah mendapatkan kata-kata yang bukan merupakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Bahasa-bahasa aneh yang serupa dengan bahasa aslinya sekarang sering muncul dan digunakan oleh anak-anak muda yang seharusnya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bahsa yang digunakan pun bermacam-macam, misalnya saja serius menjadi ciyus, beneran menjadi eneyan, demi apa menjadi miapa. Atau ada pula yang menggunakan kata ribet yang dimaksudkan adalah repot dengan dibalik menjadi tebir. Atau singkatan-singkatan seperti kamseupay = kampung udik payah iyuh, DL = Derita Lo, dan masih banyak lagi bahasa yang menjadi trend dikalangan pergaulan anak –anak muda zaman sekarang.

Tak sedikit pula dari mereka yang menggunakan kata-kata seperti itu tak melihat situasi kondisi dan juga tempat dimana mereka berbicara. Bukankah bahasa itu menunjukkan strata? Maksudnya bahasa menunjukkan strata adalah bahasa yang digunakan akan menunjukkan kedudukan sosial kita dalam masyarakat, apabila kita berbicara bahasa Indonesia dengan baik dan benar juga sopan santun, maka orang lain juga akan menilai kita dengan baik. Sedangkan apabila kita menggunakan bahasa yang tidak baik dimasyarakat, maka mereka akan menilai dengan apa yang menurut mereka dengar.

Adapula sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional), yaitu suatu program pendidikan yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional berdasarkan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 pasal 50 ayat 3, yang menyatakan bahwa Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. http://id.wikipedia.org/wiki/Rintisan_Sekolah_Bertaraf_Internasional
 
Di sekolah RSBI ini seharusnya tetap menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa utama dalam pengajaran di sekolah. Dan bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar saja bukan bahasa utama. Selain itu, budaya Indonesia tetap dipertahankan disekolah agar siswa-siswi disekolah tersebut tidak melupakan budaya bangsa sendiri.

Maka dari itu agar bahasa Indonesia tidak binasa didalam negeri sendiri, kita sebagai pemuda penerus bangsa harus menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar. Karena dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka itu menunjukkan rasa cinta tanah air dalam diri kita dan tetap menjaga persatuan bangsa Indonesia. Seperti yang tertulis dalam sumpah pemuda “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”
 

Melan Oktavia Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea